Kakek Muhid Berjualan Keong untuk Menghidupi Keluarga di Kampung Halaman

  • Whatsapp

Usianya sudah sepuh. Hidupnya di dunia sudah lebih dari 70 tahun. Selama itu pula manis pahitnya kehidupan sudah beliau jalani. Hingga tiba di masa tuanya, beliau masih harus bekerja keras banting tulang demi keluarga di kampung halaman.

Siapa Sosok Kakek Muhid?

Perkenalkan, sosok inspiratif ini bernama Kakek Muhid. Beliau tinggal seorang diri di Jakarta. Bukan rumah kontrakan tempat beliau pulang setiap harinya, melainkan sebuah masjid. Beliau biasa beristirahat dan melepas lelahnya di masjid Al-Fattah GPI yang ada di sebelah kantor cabang Muhammadiyah Menteng, Jakarta Pusat.

kakek-muhid-berjualan-keong-untuk-menghidupi-keluarga-di-kampung-halaman

Setiap harinya, beliau berjualan keong lengkap dengan miniaturnya. Tempat jualan beliau tidak menetap di satu tempat. Beliau berkeliling Jakarta demi menawarkan keong-keong yang beliau bawa. Seluruh usaha telah dilakukan namun penghasilan yang beliau dapatkan masih tetap tidak menentu.

Kadang, keong-keong yang beliau bawa tidak banyak yang laku. Kadang pula, keong-keong yang dibawanya ramai diserbu pembeli. Namun bukan berarti ketika ramai kakek bisa membawa pulang uang yang banyak. Penghasilan yang didapatkan bahkan ketika ramai pun tidak begitu banyak karena kakek hanya mengambil untung sedikit dari keong yang dijualnya.

Dari penghasilan yang didapatkan, beliau harus membaginya untuk kebutuhan sendiri di ibu kota dan untuk dikirim ke keluarga di kampung halamannya yang ada di Citayem. Beliau masih memiliki anak usia sekolah yang harus dicukupi kebutuhan biaya sekolahnya.

Untuk itulah Kakek Muhid tidak berhenti berusaha dan bekerja keras demi mendapatkan uang untuk menafkahi diri sendiri dan juga keluarga. Usia yang sudah tidak lagi mudah tidak membuatnya menjadi sosok yang hanya berpangku tangan menanti uluran belas kasihan orang lain. Di masa tuanya, kakek masih menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab dan dapat diandalkan tanpa harus minta-minta atau mengemis.

Semangatnya untuk terus berjualan keong meskipun dengan penghasilan yang tidak menentu tidak lain karena ingin agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan yang layak dan kelak bisa menjadi orang sukses.

Kakek juga memiliki cita-cita yang tinggi. Beliau ingin berangkat umroh ke tanah suci. Meskipun penghasilannya pas-pasan dan tidak menentu, bukan berarti cita-cita tersebut tidak akan terwujud. Dengan berdoa, bersabar, dan berusaha sekuat tenaga, kakek yakin suatu saat Allah akan mendengar doanya.

Untuk orang seusia Kakek Muhid, sudah seharusnya beliau tinggal di rumah dan menikmati masa tuanya dengan tenang. Sudah seharusnya kakek berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Bukannya malah berpisah dengan keluarga dan merantau seorang diri di ibu kota.

Kerasnya ibu kota menjadi saksi kegigihan Kakek Muhid dalam menghidupi kehidupannya dan menghidupi cita-citanya. Satu dua keong yang terjual sangat besar artinya bagi beliau. Kita bisa membantu beliau dengan membeli dagangannya. Atau bisa juga dengan cara lain yang lebih mudah.

Kebaikan untuk Kakek Muhid

Kita bisa ikut berkontribusi untuk orang-orang yang bernasib sama seperti Kakek Muhid. Allianz sebagai salah satu perusahaan Asuransi Syariah Indonesia yang terbaik mengajak kita untuk memiliki Produk Asuransi Syariah dari Allianz. Sebagian dana yang kita bayarkan di produk asuransi ini akan digunakan untuk program sosial bagi orang-orang yang membutuhkan.

Kebaikan lainnya juga bisa kita lakukan dengan memanfaatkan fitur wakaf yang ada di Allianz. Fitur ini memungkinkan kita untuk ikut berbagi rezeki kepada sosok-sosok mulia nan inspiratif yang membutuhkan, seperti Kakek Muhid. Dengan kebaikan kecil yang kita mulai, akan berdampak besar bagi sekitar. Jadi, mari #AwaliDenganKebaikan untuk menularkan kebaikan lainnya.

 

Sumber:

http://ketimbangngemisjakarta.or.id/impian-luhur-kakek-muhid-umroh/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *