Investasi di Fintech P2P Lending Juga Perlu Diversifikasi Loh, Begini Caranya

  • Whatsapp

Berinvestasi merupakan kegiatan yang umum dilakukan untuk mengatasi bahaya berkurangnya daya beli akibat efek inflasi dan juga mengembangkan kekayaan yang kita miliki. Investasi 2021 pun ada banyak macamnya, dari yang umum seperti investasi di emas, property, sampai reksadana. Apapun jenis investasinya, selalu akan ada risiko yang menyertai karena prinsip investasi: High Risk, High Gain.

Read More

Penerapan Prinsip Pada Pendanaan P2P Lending

Prinsip ini juga berlaku untuk pendanaan P2P lending syariah Indonesia. Pada intinya, melalui platform Peer-to-peer (P2P) Lending, kamu bisa memberikan dana kepada UKM yang membutuhkan pinjaman, dan menikmati hasil dari bunga pinjaman tersebut. Sehingga, dana yang kamu berikan akan kamu terima kembali dengan bunganya.

Pendanaan P2P Lending yang sedang tumbuh pesat dalam beberapa tahun belakangan terakhir ini juga tidak terlepas dari adanya risiko. Dua risiko utama yang menyertai adalah Risiko Keterlambatan Pembayaran dan Risiko Gagal Bayar. Risiko ini sudah harus dipahami oleh calon lender yang akan memulai pendanaan P2P Lending.

Platform P2P Lending seperti Amartha tentunya sudah memikirkan cara memitigasi risiko ini. Cara pertama yang dilakukan adalah dengan memasang agunan di setiap peluang pinjaman. Tentunya agunan yang digunakan merupakan agunan yang tidak konvensional, kebanyakan berupa receivables, karena tujuan dari P2P Lending adalah untuk membantu UKM yang tidak punya agunan berupa fixed asset.

Cara kedua adalah dengan credit assessment model yang prudent. Beberapa kriteria utama dari credit assessment Amartha adalah Cashflow, Jenis Agunan yang dipakai, dan juga Credit Behaviour.

Cara berikutnya untuk memitigasi risiko merupakan cara yang dapat dilakukan oleh setiap lender, yaitu Diversifikasi. Apa itu diversifikasi? Diversifikasi merupakan cara menurunkan risiko, baik dalam investasi maupun pendanaan P2P Lending dengan cara menyebar alokasi dana (tidak menaruh dana di satu peluang investasi atau pendanaan saja). Dengan menyebar dana, maka risiko pun tersebar. Apabila ada satu peluang investasi atau pendanaan yang bermasalah, maka dana lainnya masih aman.

Misalkan kita akan memberikan pendanaan P2P Lending sebesar Rp. 100 Juta di peluang pinjaman yang memiliki tenor 4 bulan, dan dengan pembayaran pokok pinjaman di akhir tenor. Terdapat 10 peluang pinjaman sebagai berikut:

Semakin credit rating menuju A, maka risiko semakin kecil, dan sebaliknya apabila credit rating semakin ke C maka risiko semakin besar. Di dalam contoh kita berasumsi bahwa peluang pinjaman G dengan credit rating C akan mengalami Gagal Bayar atau Non Performing Loan (NPL) karena peluang pinjaman tersebut yang paling berisiko.

Mulai Diversifikasi Sekarang

Dari ilustrasi di atas dapat kita simpulkan bahwa diversifikasi merupakan cara yang cukup ampuh untuk menurunkan risiko di pendanaan P2P Lending, yaitu tingkat NPL atau Gagal Bayar. Memang semua masih di dalam perhitungan di kertas. Tidak ada jaminan bahwa pinjaman dengan credit rating yang lebih baik tidak akan mengalami NPL dan juga pinjaman yang credit ratingnya rendah akan mengalami NPL, akan tetapi ini merupakan cara termudah yang bisa digunakan oleh setiap lender dalam menurunkan risiko.

Seperti kata investor handal sekaligus salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet: “Don’t put all eggs on one basket” (“Jangan taruh semua telur di satu keranjang“). Meskipun begitu, setiap lender memiliki preferensi risiko yang berbeda-beda. lender yang tipenya Risk-Taking akan cenderung memilih peluang yang memberi bunga tinggi meskipun risikonya juga tinggi, namun sebaliknya untuk tipe lender yang Risk-Averse.

Jadi, sudahkah kamu melakukan diversifikasi?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *